Nasib Nissan Kalah Saing dari Merek Cina

Pada tanggal 1 Juni yang lalu, Nissan merayakan ulang tahunnya yang ke-85 tahun. Pada tahun 1934, Nissan memulai debutnya di dunia otomotif. Perusahaan ini menawarkan berbagai inovasi mobil kepada masyarakat Jepang. Tidak hanya itu, Nissan juga mulai memasarkan produknya ke seluruh dunia.

Nissan

Krisis Nissan

Selama 85 tahun hadir di dunia, Nissan telah merasakan banyaknya jatuh bangun di dunia otomotif. Prestasinya yang terakhir terjadi pada tahun 2017, yakni saat Nissan meraih pangsa pasar sebesar 10,2 persen di Amerika Utara. Hasil ini merupakan yang paling besar selama dekade terakhir, angkanya sendiri terus meningkat sejak tahun 2012 yang hanya bernilai sebesar 7,9 persen. Bahkan, pada saat itu Nissan berhasil menyalip pencapaian Honda dan Toyota di AS.

Namun, semua prestasi tersebut menjadi berbeda pada pertengahan tahun 2019. Baru – baru ini Nissan disebut harus melakukan PHK kepada 12.500 pekerjanya sampai tahun 2023. Menurut Asia Nikkei, perusahaan ini akan memangka 1.700 pekerjanya yang ada di India, 1,420 di AS, 1.000 di Meksiko, 880 di Jepang, 830 di Indonesia, 470 di Spanyol, dan 90 di Inggris. Totalnya hingga saat ini sudah mencapai 6.390 pekerja yang diberhentikan.

CEO Nissan Hiroto Saikawa mengatakan bahwa pemotongan produksi Nissan merupakan salah satu upaya untuk bisa mengembalikan keadaan sebelum ekspansi yang dipimpin oleh Carlos Ghosn beberapa waktu yang lalu. Pengurangan karyawan yang dilakukan oleh Nissan ini akan berdampak pada berkurangnya kapasitas produksi oleh Nissan sebanyak 600.000 kendaraan dari 14 pabriknya yang tersebar di seluruh dunia. Sebagian besar pabriknya berada di negara berkembang.

Di Indonesia, Nissan sudah menjual 7.176 kendaraan yang diproduksinya selama semester pertama 2019. Hasil ini naik 49 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya, namun masih jauh di belakang pemimpin pasar otomotif, yakni toyota dengan total penjualan sebesar 154.360 unit.

Berdasarkan data dari wholesales Gaikindo dan GIIAS, angka distribusi mobil merek Nissan dari pabrik ke dealer telah menurun secara drastis pada 5 tahun terakhir. Pada tahun 2013, Nissan masih meraih angka distribusi sebesar 61.113 unit. Namun, pada tahun 2018 turun menjadi hanya 6.885 unit saja.

Merek mobil dari Jepang memang memegang pangsa pasar gabungan yang paling besar di Indonesia. Porsinya bahkan mencapai angka 80 persen. Namun, keberhasilan tersebut belum menguntungkan bagi Nissan. Perusahaan tersebut bahkan harus berada di urutan belakang dari pendatang baru asal Cina, yakni Wuling, yang pada periode Januari hingga Juni 2019 sudah berhasil menjual sebesar 7.767 unit kendaraan.

Strategi Nissan

CEO Nissan Hiroto Saikawa mempunyai rencana yang bisa membangkitkan Nissan dari keterpurukannya di pasar AS, faktor yang secara tiba – tiba mendorong perusahaan tersebut mengalami kesulitan keuangan yang terburuk dalam dekade terakhir. Road map menuju pemulihan sendiri telah disiapkan, di antaranya adalah dengan sebuah banyak produk – produk otomotif yang baru, peluncuran teknologi penggerak elektrifikasi dan otonom, pemutusan hubungan kerja, hingga pengeluaran insentif tambahan. Nissan juga disebut ingin merampingkan pengembangan produk otomotif dengan lebih bersandar pada mitra aliansi Renault dan Mitsubishi untuk mobil kompak serta sub-kompak, juga kendaraan komersial yang ringan. Saikawa mengatakan bahwa langkah tersebut mampu membebaskan sumber daya Nissan untuk bisa berinvestasi pada mobil – mobil jenis besar, crossover, dan SUV dengan margin yang lebih tinggi. Ia juga mengindikasikan bahwa model flagship Nissan ke depannya bukan lagi sports car GT-R, namun juga sebuah crossover elektrik dengan teknologi paling terkini.

Beberapa analisis yang sudah dilakukan mengatakan bahwa perubahan pandangan perusahaan seperti ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, terutama dengan kondisi Nissan yang berkurang pasarnya di AS. Christoper Richter, Senior di Automotive Analyst di CLSA Asia-Pacific Markets, mengatakan bahwa menurunnya produksi Nissan akan berdampak pada menurunnya pendapatan perusahaan tersebut. Secara tidak langsung, rencana – rencana Nissan akan lebih sulit dilakukan. Richter menambahkan bahwa ia lebih suka jika Nissan mempertimbangkan rencana yang jauh lebih berani, seperti lewat kehadirannya yang lebih masif di Asia Tenggara atau Eropa yang dibantu oleh aliansi Renault dan Mitsubishi.